Jumat, 11 November 2016
Anger Management, Cegah Ibu menyakiti anak saat kelelahan
Saat membaca bukunya Mba Grace Melia berjudul Letters To Aubrey (Kumpulan surat seorang Ibu untuk putrinya yg berkebutuhan khusus akibat terinfeksi virus rubella saat hamil) ada surat berjudul : Mami Marah ke Ubii… Maaf :( :( :(
Surat tersebut berisikan penyesalan Mba Grace karena marah pada Ubii yang sulit makan di mana Mba Grace menyiapkan berbagai makanan menu MPASI homemade yang selalu ditolak dan kelelahan. Ah Mba Grace, you’re not alone… Pagi ini saya flashback kesalahan2 yang saya buat 8 tahun lalu. Mengasuh, merawat, mendidik anak sejak bayi sendirian memang perlu stok sabar yg tidak ada batasnya. Stok sabar perlu jadi kuadrat bila Ibu dikaruniai anak2 spesial, berkebutuhan khusus, menderita penyakit yang perlu perawatan jangka panjang.
Anak saya Yusuf, dengan penyakit Hirschprungnya, apapun yang ditelannya langsung muntah proyektil (menyemprot). Pasca disusui hingga kedua payudara saya lembek, langsung byurr… muntah mengotori dinding, kasur, dll disusul rewel karena kesakitan perutnya kembung dan sulit bab. Kemudian Yusuf bolak balik sesak napas, menderita pneumonia hingga bolak balik dirawat di RS.
Ketika Yusuf sudah mulai menerima MPASI (Makanan Pendamping ASI) pun sama, muntah proyektil karena tidak ada dokter yang bisa mendiagnosis apa penyakit Yusuf hingga usianya berusia 1 tahun. Plus nya Yusuf menderita TB (Tuberkulosis), mengkonsumsi si obat merah yang kabarnya sangat pahit, dan cerita para penderita TB dewasa itu kehilangan nafsu makan. Subhanallah dengan ASI eksklusif saat itu Yusuf tidak menderita gagal tumbuh, kurva pertumbuhan berat badan (BB) nya masih normal.
Saat kelelahan mengurus Yusuf, saya mengandung Ibrahim. Mengandung Ibrahim menyebabkan penyakit syaraf HNP saya makin parah, bahkan tidur pun saya kesakitan. All at once, ternyata suami saya dikirim tugas belajar yang tidak bisa membawa saya & Yusuf, selama 6 bulanan ke benua lain. Lalu mulailah episode emosi saya sulit terkendali. Kombinasi penyakit2 Yusuf, kehamilan saya, HNP saya, suami di benua lain, jauh dari keluarga, membuat saya seperti di dasar laut sendirian. Episode marah2, berteriak, menangis dan sesekali menyakiti Yusuf –been there done that Mba Grace hiks- .
Padahal mengendalikan diri saat emosi disebutkan di dalam Al Quran (mohon maaf kalau ayat ini tidak tepat/ada yang lebih tepat) :
" Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134) "
Kemudian di dalam suatu hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”
Ah, saya yang fakir ilmu ini memang sekilas pernah dengar dulu tips2 mengendalikan emosi ini, tapi ya tidak dijalankan :
1. Berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan
2. Diam, agar terhindar dari ucapan-ucapan buruk yang sering/mudah keluar ketika orang sedang marah
3. Jika marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya duduk, kalau kemarahannya belum hilang maka hendaknya berbaring
Menurut mayoclinic, anger management adalah proses belajar untuk mengenali tanda2 bahwa kita sedang marah dan segera mengambil tindakan untuk menenangkan diri dan beradaptasi dengan situasi saat tersebut dengan cara yang positif. Anger management menolong kita mencegah rasa marah berkembang menjadi frustasi sedini mungkin.
Yang utama adalah mencari pemicu marah dan tanda2 baik fisik maupun emosi yang terjadi ketika akan/mulai marah.
Buatlah daftarnya ya, daftar tersebut :
1. Stressor . Apa pemicu marah yang paling sering? Mengurus bayi-anak sendirian sehingga kelelahan? Anak-anak, suami, urusan rumah tangga, pekerjaan, dll
2. Tanda-tanda kemarahan makin tinggi, misalnya menggigit bibir, mengepalkan tangan, wajah memerah, bila sedang menyetir jadi ngebut, dll
3. Tanda-tanda emosi seperti ingin berteriak, menangis, hati sesak/penuh, dll
Tips tambahan ini bisa dicoba :
1. Relaksasi
Hal mudah, murah, sederhana yaitu Tarik napas pelan, dalam. Bisa sambil bergumam selain Ta’awudz, istigfar, dzikir , berkata Tenang, sabar. Bayangkan kejadian2 yang membahagiakan.
2. Ganti suasana/pindah tempat
Seperti yang Mba Grace cerita di bukunya, saat marah tersebut, Mba Grace meletakkan Ubii di tempat aman kemudian lari ke kamar, dan menangis. Yup, ini adalah cara yang lebih aman daripada kita makin marah dan dapat menyakiti bayi/anak kita lebih keras. Bila anak2 makin besar, pamit bilang ke anak2 : “Bunda perlu sendirian di kamar sebentar mungkin kira2 15 menit, bila tidak ada yang urgent biarkan Bunda sendirian dulu ya”
3. Ask for help ! Mintalah / carilah bantuan
Bila memungkinkan, carilah bantuan, bisa dari tetangga,teman (bila tinggal jauh dari keluarga), tentu yang utama bicarakan dengan suami. Tinggal di perantauan apalagi di luar negeri tidak usah sungkan minta tolong, sangat umum di AS, Australia itu saling baby-sit entah sekedar menjaga anak2 saat sang Ibu ke pasar, saat sakit, dll. Ibu jangan bertahan ingin jadi Super woman, kenali saat Ibu mulai lelah, dan stress seperti yang saya sebutkan di atas.
4. Sayangi diri sendiri, rawat diri dengan baik
Walau klise dan sulit dilakukan tapi ya curi2lah waktu untuk menyayangi diri sendiri seperti cukup tidur/istirahat,makan yang bergizi, berolahraga, dan tentu me time : lakukan hal-hal, hobi2 yang disukai, gak perlu mahal2 : mandi air hangat, membaca, ngemil (bukan nge Mall hehe) , nyalon (ini saya banget, lari untuk creambath yang paling sering), pijat (apalagi saya sering kram betis-paha), dll.
Dan tips2 lainnya banyak, yang saya sebut di atas yang pernah saya terapkan.
Yang terakhir, kenali tanda2 ini di mana sudah saatnya Ibu perlu bantuan secara intensif baik dari orang terdekat maupun psikolog/psikiater :
1. Sering/regular sulit mengendalikan marah
2. Secara konstan tidak sabar, sinis, dan perasaan tidak nyaman, cemas
3. Berbicara dengan suami, anak, di tempat kerja mudah memicu frustasi
4. Melakukan kekerasan fisik pada anak, suami, dll
5. Mengancam anak, suami, dll
6. Tidak dapat mengendalikan diri seperti memecahkan barang, melempar barang, dll
7. Tanda-tanda depresi makin nyata
Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan, tulisan ini untuk semua Ibu –khususnya- yang been there done that seperti saya …
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar