Sabtu, 09 Desember 2017

Bawa Anak Usia Balita di tempat umum

Dear keluarga yang bawa anak usia balita naik transportasi umum, bisakah kalian mengajarkan ke anak kalian bahwa yang ditumpangi adalah transportasi umum yang mana berarti setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan ketenangan dalam perjalanan?

Saya nggak pernah masalah sama bayi nangis saat take off atau landing pesawat, karena saya tahu mereka mungkin sakit telinganya dan belum bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi itu. Saya juga nggak masalah sama bayi menangis pada umumnya, ya mau dibilangin gimana juga dia masih bayi gitu, belum paham. Atau sama anak berkebutuhan khusus, saya fine, saya tahu memang agak sulit bilangin mereka. Tapi ketahuilah, saya mantan Guru TK dan saya tahu anak usia 3 - 5 tahun tak berkebutuhan khusus itu sudah bisa dibilangin. Kalau anak usia 3 - 5 tahun teriak-teriak tak terkendali di kereta atau menempati kursi lebih dari jatahnya di bus atau lari-lari di restoran (apalagi di sofa - pakai sandal atau sepatu pula), sejujurnya, saya nggak paham kenapa saya (dan orang lain) tidak boleh memandang kalian, orangtuanya, dengan pandangan, "DUDE, TAME YOUR KIDS!!"

Saya punya dua keponakan, usia 2 dan 4, mereka bebas teriak-teriak, lari-larian, mukul-mukul mainan palu, loncat dari sofa, gegulingan di kasur, howling, mooing, dan lain sebagainya DI RUMAH. Tapi begitu kami berada di ruang publik, gerak mereka akan kami batasi. Karena apa? Karena itu adalah ruang publik. Kami berbagi tempat dengan orang lain. Mereka harus belajar untuk juga menghormati orang lain yang memiliki hak sama atas ruang itu. Key dan Ken lari-larian di mall? Ya. Dalam pengawasan kami dan hanya kami bolehkan dalam batas pandangan juga kalau keadaan tidak terlalu ramai. Kalau mereka tak sengaja menabrak orang lain, kami akan cepat datang dan minta maaf ke orang tersebut. Lama-lama, Key sudah bisa minta maaf sendiri kalau tidak sengaja menabrak orang lain. Lari-larian di restoran? Tidak pernah! Sebelum berusia tiga tahun, mereka akan duduk di baby chair. Setelah tiga tahun, mereka duduk bersama kami. Harus!

Anak-anak bosan menunggu, iya saya tahu. Tapi itu bukan alasan mereka bisa lari-larian di restoran sambil menunggu Bapak Ibunya selesai makan. Kami makan secara bergantian. Shift-shiftan. Dan kami akan makan dengan kecepatan lebih dari biasanya. Saya dan Kak Ari makan cepat sementara Mama nyuapin Key dan Mbak Citra nyuapin Ken. Selesai makan, saya dan Kak Ari ajak KeyKen ke luar restoran kalau mereka bosan, Mama dan Mbak Citra bisa makan. Nyuapin anak sambil mereka lari-larian akan ditentang keras sama Mama saya. Bukan karena kami keluarga Jawa penuh tata krama tapi karena menyuapi makan anak sambil mereka lari-larian itu meningkatkan kemungkinan mereka tersedak? There. Common sense. Sekarang usia 4 tahun, Key tidak diperbolehkan keluar dengan alasan bosan menunggu yang lain makan. Tapi kami jelaskan sebab dan mutual understandingnya. Kami jelaskan perihal kesopanan di meja makan. Dan dia mengerti. Sebosan apapun dia menunggu kami selesai makan, dia akan bertahan di kursi. Paling nanya berulangkali, "Belum ya Aunty? Masih lama ya? Duh Key bosan nih." ya gpp, kami jelaskan saja berulang kali juga. Wkwkwkwk.

Beberapa dari kalian akan berlindung di balik ucapan, "Ya loe belum punya anak aja Lan. Jadi loe gak tau ribetnya." DUDE, MY BRO AND SIS-IN-LAW GOT KIDS!! Usia dua anaknya lumayan dekat dan mereka bisa menjinakkan anaknya saat berada di ruang publik. Banyak teman saya yang bisa. So it's doable! Gak usah lah kalian berlindung di balik, "Ya namanya juga anak-anak." Halah mbelghedes! Bilang aja kalian gak mampu jaga. Atau respon paling sering saya dapat dari Ibu-ibu kalau saya tegur karena anaknya loncat-loncat di sofa restoran, "Anak itu anugerah, Mbak. Titipan. Jangan dilarang-larang." EBUSEH SUNGGU LUAR BIASA.

That leads to another comment my friend once say, which then I agreed to, "Parents who can't control their kids in public space, please don't reproduce!!" 😂😂😂

Tertanda,
Aunty yang agak emosi karena setiap sudah hampir tidur, anak di sebelah tiba-tiba teriak kenceng banget dan panjang, "Aaaaaaa!!!" for no reason!! Kakeknya dia yang juga lagi coba tidur sampai kebangun kaget dua kali. Bapak Ibunya ya selow ngobrol. Nggak ada yang bilangin. Karena berkali-kali, barusan Bapak sebelah saya (yang juga punya anak usia mirip) akhirnya negur, "Jangan teriak-teriak ya Nak. Bapak sampai kaget." dan Bapak Ibunya anak itu gak ada minta maaf atau bilangin anaknya. Diam aja mereka. Good Lord. Bye tata krama. God, please don't let them reproduce (again). 😅

0 komentar:

Posting Komentar