Selasa, 20 September 2016

Waspadai Stres di Awal Pernikahan

Sahabat Ummi, alih-alih penuh bunga, masa awal pernikahan bisa jadi penuh duri. Ada banyak kenyataan yang ternyata tak sesuai harapan.

Banyak yang bilang tahun-tahun pertama pernikahan adalah masa terberat yang dihadapi setiap pasangan. Kehidupan baru yang berbeda dengan kehidupan semasa lajang tak ayal membuat gamang. Belum lagi permasalahan lain yang mesti dihadapi setelah pesta pernikahan. Maka, stres bisa menjadi bagian romantika semasa bulan madu.

Wajar dan Mesti Dihadapi

“Kondisi ini wajar sekali terjadi. Ibarat sedang masuk ke lingkungan baru, kita membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri,” kataNurindah Fitria, M.Psi, dosen dan psikolog di Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, Jakarta.





Baca juga: 5 Tahun Awal Pernikahan Merupakan Masa Terberat, Ini Alasannya!



Nurindah menjelaskan, ada bebeberapa penyebab munculnya stres di awal pernikahan. Yang utama, penyesuaian diri dengan peran baru, yaitu sebagai seorang istri atau suami plus peran sebagai menantu. Bila tak lama setelah menikah langsung terjadi kehamilan, maka adaptasi berikutnya yang harus pula dijalani adalah peran sebagai calon orangtua.

Harapan-harapan yang muncul dari masing-masing pasangan juga berpotensi menimbulkan stres. Setiap orang pasti memiliki harapan ideal tertentu sebelum pernikahan, baik terhadap pasangan maupun diri sendiri. Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sosok pasangan bisa jadi berbeda dengan apa yang kita harapkan.

Begitu pula harapan terhadap diri sendiri, yang ingin tampil sempurna di hadapan pasangan. Padahal setiap orang punya keterbatasan dan jauh dari sempurna. “Ketika kita tidak dapat melakukan hal yang sempurna menurut kita untuk pasangan, ini akan menjadi beban bagi diri sendiri,” ujar Nurindah yang mendapat gelar master dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Ditegaskan Nurindah, tak hanya pihak istri yang dapat mengalami stres di awal pernikahan, suami pun bisa. Hanya saja cara mengatasi stres (coping stress) yang berbeda antara laki-laki dan perempuan akan memberi kesan yang berbeda pula.

Perempuan biasanya mengatasi stres dengan fokus pada pengelolaan emosi (emotional focused coping). Misalnya, meluapkan emosi dengan marah dan menangis. Inilah gejala stres yang paling dikenali. Belanja atau merawat diri ke salon juga merupakan cara sebagian perempuan untuk meredakan stres.

Sedangkan lelaki umumnya mengatasi stres dengan langsung mengatasi masalahnya (problem focused coping). Cara yang dilakukannya, antara lain, dengan bekerja lebih keras untuk menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai suami. Dengan cara itu stresnya bisa berkurang, sehingga terlihat lelaki  seolah tak mengalami stres pasca pernikahan.

Stres tentu membuat tak nyaman. Sayangnya, stres tidak bisa dicegah. Namun, bisa diantisipasi. Idealnya, sebelum menikah bukan hanya pesta pernikahan yang harus dipersiapkan, tapi juga mental menghadapi pernikahan. Pasangan perlu mendapatkan gambaran tentang kehidupan pernikahan. Karena itu, akan sangat membantu bila pasangan yang hendak menikah mengikuti layanan konseling pra nikah.

Kemampuan Bertahan

Stres karena proses adaptasi bisa berlangsung lama atau sebentar tergantung pada karakteristik kepribadian yang dimiliki masing-masing pasangan. “Kunci penyesuaian yang cepat adalah sikap keterbukaan terhadap pasangan. Semakin terbuka diri kita, penyesuaian diri pun akan semakin cepat,” jelas Nurindah. Tentunya keterbukaan dilakukan oleh kedua pihak, bukan hanya salah satunya. Singkirkan rasa egois, lalu kedepankan kepentingan bersama, maka penyesuaian lebih cepat terwujud.

Yang perlu diingat, segeralah atasi stres-stres kecil yang bisa terjadi setiap hari agar tidak bertumpuk terus-menerus menjadi stres yang sulit diatasi. Sebelum menikah pun kita kerap mengalami stres-stres kecil dalam keseharian. Maka kemampuan kita mengatasi stres itu sebelum menjadi besar bisa pula digunakan saat mengalami stres pasca pernikahan.

Kemampuan mengatasi stres juga dipengaruhi oleh kemampuan bertahan secara psikologis (psychological hardiness) yang dimiliki masing-masing individu. Mereka yang memiliki kemampuan bertahan yang baik adalah individu yang menyukai tantangan, memiliki komitmen, dan memiliki kendali atas apa yang dihadapi. Berbagai perbedaan yang ditemui dalam pernikahan menjadi tantangan yang harus dihadapi demi komitmen pernikahan. Stres besar maupun kecil dalam pernikahan akan mudah saja diatasi.

Namun, dalam kondisi tertentu stres yang dialami pasangan yang baru menikah perlu penanganan segera. Misalnya saja bila pertengkaran terjadi terus-menerus sepanjang pernikahan, munculnya masalah yang sulit diselesaikan oleh pasangan, dan sebagainya. Tentu harus dicari apa pemicu dan solusi atas masalah yang menimbulkan stres tersebut.

Asmawati

Wawancara: Nur Fitriyani            

Membangun Komunikasi Pengantin Baru

Saling terbuka adalah kunci cepatnya proses adaptasi di awal pernikahan. Namun, keterbukaan tanpa disertai komunikasi yang efektif malah akan membuat masalah baru. Berikut beberapa cara membangun komunikasi efektif.

 Redakan dulu amarah sebelum bicara. Jangan bicara saat diliputi kemarahan. Begitu pula saat pasangan marah, jangan balas dengan kemarahan.
 Tunjukkan rasa hormat terhadap pendapat pandangan agar ia tak merasa direndahkan, walau mungkin kita tak setuju dengan pandangannya.
 Gunakan pernyataan saya dalam mengutarakan perasaan. Jangan katakan, “Kamu menyakiti saya,” sebaiknya katakan, “Saya sedang marah kepadamu sekarang.”
 Hindari menggunakan kata selalu atau tidak pernah. Misalnya, “Kamu tidak pernah mendengarkan saya.” Ini akan menyakiti pasangan.
Katakan secara spesifik apa yang tidak kita sukai. Jangan melebar ke mana-mana. Misalnya, “Saya kesal kamu tidak mendengarkan pendapat saya.”

0 komentar:

Posting Komentar